Senin, 04 Januari 2016

Kajang Pada Upacara Ngaben di Bali

Kajang berasal dari bahasa kawi yang artinya penutup, atau kerudung. Kajang adalah salah satu piranti upacara Pitra Yadnya, yaitu Pengabenan. Kajang ini terbuat dari selembar kain putih dengan panjang kurang lebih satu setengah meter (3 hasta). Dalam lembaran kain tersebut ditulisi dengan gambar-gambar tertentu dan aksara-aksara modre yang memiliki nilai-nilai magis sebagai simbol kelepasan. Dalam membuat kajang ini, tidak sembarang orang boleh membuatnya, biasanya orang yang berhak membuat adalah Sang Sulinggih (dwijati) , orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau pemangku kawitan. Cerita awal tentang kajang ini terdapat dalam Kakawin Bharatayudha, diceritakan dalam kakawin tersebut Dewi Hidimbi meminta sebuah kerudung kepada Dewi Drupadi untuk menutup diri dalam perjalanan yang panas untuk menemui nenek moyang (leluhur) agar tidak mendapat rintangan dalam perjalannya menuju Swarga. Dalam kisah ini tersirat nilai yang sangat mendalam tentang fungsi, dan makna penggunaan kajang dalam upacara ngaben.
Kajang ini sesungguhnya ada dua macam, yaitu :

Kajang Siwa

Kajang Siwa adalah kajang yang diperoleh dari Sang Sulinggih (Pedanda, Sri Empu, Dukuh, Bhagawan, dll) yang muput upacara bersangkutan.

Kajang Kawitan

Kajang Kawitan adalah kajang yang diperoleh dengan cara nunas kepada Bhatara Kawitan, di Pura Kawitan warga masing-masing. Kajang Kawitan ini akan berbeda antar setiap soroh/clan, seperti misalnya Kajang Pasek yang ada di gambar di atas, dan Kajang Pande yang ada di gambar dibawah.
 Kajang merupakan simbol atman yang dilukiskan dengan aksara dan gambar-gambar suci, penggunaan kajang ini dalam upacara pengabenan adalah diletakkan diatas jenazah/petinya seperti selimut. Sebelum dapat digunakan sesuai dengan nilai spiritualnya harus dilaksanakan upacara Ngajum Kajang, mengenai upacara ini akan diulas khusus pada artikel selanjutnya. Setelah selesai ngajum kajang barulah kajang ini dinyatakan telah memiliki nilai spiritual atau daya magis, pada saat pemberangkatan jenazah menuju kuburan (Setra/Patunon) kajang ini diletakkan di atas jenazah yang diusung menggunakan wadah/bade, dan nantinya akan dibakar bersama jenazah.
Kajang memiliki nilai spiritual sebagai tanda restu dari sanak keluarga, Sang Sulinggih, dan Bhatara Kawitan terhadap kepergian Sang Lina (mati) untuk manunggal kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. 



sumber : http://nirmalajati.blogspot.co.id/2014/07/kajang.html

Perbedaan Kristen Protestan dan Katolik

Perbedaan Kristen Protestan dan Katolik
1. Katolik mengakui Paus, Protestan tidak
Ini adalah perbedaan paling utama antara Kristen Protestan dan Katolik. Paus adalah pemimpin tertinggi umat Katolik. Paus bertahta di Vatikan, Roma. Paus pertama adalah St. Petrus, pemimpin dari ke-12 murid Yesus. Dari kemunculan ajaran Kristen sejak abad pertama hingga sekarang sudah ada sekitar 300-an Paus yang menduduki tahta vatican. Paus sekarang adalah Paus Fransiskus I yang menggantikan Paus Benedictus XVI. Namun ajaran Protestan tidak mengakui Paus dan tidak memiliki pemimpin tertinggi. Alasannya dapat ditelusuri dari sejarah perkembangan Kristen abad pertengahan di Eropa.

Pada zaman itu, Paus Leo X ingin membangun gereja terbesar dan terindah di dunia yang disebut Basilika St. Petrus di Vatikan (hingga saat ini gereja tsb masih ada). Paus Leo X kemudian melakukan hal-hal yang di belakang hari mereka akui sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Katolik sendiri. Yang dimaksud adalah mengumpulkan uang guna mencukupi dana pembangunan gereja tersebut,.salahsatunya dengan cara menjual surat penghapusan dosa. Hal ini diprotes oleh seorang pendeta bernama Martin Luther yang akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari gereja Katolik. Karena memprotes gereja Katolik inilah kemudian Martin Luther dan pengikutnyaka disebut sebagai umat “Protestan”.

2. Umat Katolik membuat tanda salib, umat Protestan tidak
Cara termudah membedakan umat Katolik dan umat Protestan adalah dengan memperhatikan saat mereka makan. Sebelum makan, biasanya umat Katolik membuat tanda salib, sedangkan umat Protestan tidak (cuma berdoa biasa). Tanda salib ini digunakan sebelum dan sesudah berdoa. Tanda salib dibuat dengan tangan telunjuk kanan menyentuh dahi – dada – bahu kiri – bahu kanansecara urut.

3. Perbedaan kitab suci
Apakah nama kitab suci umat Kristen? Kita sering latah ikut “keseleo lidah” bila mendenger ada yang menjawab kitab suci ajaran Kristen adalah Injil. Sebenarnya nama kitab suci umat Katolik dan Protestan itu sama, yaitu Alkitab. Injil adalah bagian dari Alkitab yang khusus menceritakan kehidupan Yesus. Alkitab umat Katolik dan Protestan ternyata berbeda. Alkitab Katolik lebih tebal daripada Alkitab Protestan sebab di dalam Alkitab Katolik ada tambahan 12 kitab yang dinamakan Deutero-Kanonika. Kitab-kitab tersebut tidak diakui kebenarannya dalam ajaran Protestan. Implikasi dari tidak diakuinya kitab-kitab ini, umat Protestan tidak mempercayai adanya “Api Penyucian” atau “Purgatory” (wilayah di antara surga dan neraka) yang dipercayai oleh umat Katolik, sebab doktrin ini cuma ada di kitab Deutero-Kanonika.

4. Masalah penafsiran kitab suci
Jika kitab sucinya saja sudah berbeda, apalagi penafsirannya! Dalam Katolik, umat biasa tidak boleh menafsirkan kitab suci. Satu-satunya yang boleh menafsirkan kitab suci hanyalah Magisterium, yaitu para ahli agama yang berpusat di Roma. umat-umat Katolik di seluruh dunia tinggal mengikuti saja penafsiran Magisterium tersebut dan tidak boleh menafsirkan kitab suci menurut pengertian mereka sendiri. Sedangkan menurut ajaran Protestan, semua umat punya hak yang sama dalam menafsirkan kitab suci. Hal itu bukan monopoli pemuka-pemuka agama saja.

Sekilas kelihatannya lebih "enak" ajaran Protestan, sebab lebih bebas. Namun ternyata ada dampak signifikannya. Umat Katolik di seluruh dunia lebih bersatu karena memiliki satu pendapat yang sama tentang kitab suci. Jadi, menurut mereka di dunia ini ajaran Katolik cuma ada satu dan tidak terbagi-bagi menjadi aliran-aliran lain seperti dalam protestan.

Sebaliknya kaum Protestan yang jika dihitung-hitung sebenarnya jumlah pengikutnya lebih banyak dari Katolik, terpecah-pecah menjadi aliran-aliran yang lebih kecil yang disebut “denominasi”. Aliran-aliran ini muncul karena perbedaan penafsiran antara satu kelompok dengan kelompok lain, misalnya ada GPIB, Kharismatik, Pentakosta, Metodis, Baptis (GBI), Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Batak (HKBP), Adven, Mormon,dan lain-lain. Dewasa ini, perbedaan antar kristen di seluruh dunia sudah mencapai lebih dari 34.000 sekte (denominasi).

Implikasi praktisnya, umat Katolik dapat bebas beribadat di gereja Katolik manapun. Mau di Jakarta, Bandung, Malang, Manado, New York, terserah saja, sebab ajarannya sama. Tapi umat Protestan biasanya hanya pergi ke satu gereja yang sama seumur hidupnya. Misalnya penganut Baptis harus pergi ke gereja GBI yang mungkin jaraknya 15 kilometer dari rumah, dan tidak dapat pergi ke gereja GPIB yang letaknya cuma di jalan dari depan rumah, dikarenakan ajarannya gerejanya berbeda (walaupun sebenarya keduanya sama-sama gereja protestan). Bahkan tidak jarang, antara denominasi Protestan yang satu dengan yang lain berselisih paham gara-gara perbedaan pandangan itu.

5. Pemuka ajaran Katolik memiliki hierarki (tingkatan), sedangkan Protestan tidak
Para pemuka ajaran Katolik memiliki hierarki sebagai berikut: Pastur (romo) – Uskup – Kardinal – Paus. Dengan adanya tangga hierarki itu, para pemuka ajaran Katolik dapat naik jabatan, bahkan dapat menjadi Paus. Semua Paus juga dulunya berawal dari Romo biasa. Akan tetapi, pemuka ajaran Protestan (pendeta) tidak memiliki hierarki semacam itu.

Karena pemuka ajaran Katolik ada hierarkinya, maka gereja Katolik juga punya hierarki, yaitu kapel (gereja kecil)– gereja paroki (tempat kedudukan pastur)– katedral (tempat kedudukan uskup/kardinal)– basilika (tempat kedudukan paus). Semakin tinggi tingkatannya biasanya ukurannya juga semakin besar. Sedangkan gereja Protestan tidak punya hierarki. Jadi, biasanya yang namanya katedral itu adalah gereja Katolik (walaupun ada juga beberapa gereja Protestan yang menggunakan nama atau istilah katedral).

6. Pemuka ajaran Katolik tidak boleh menikah, Protestan boleh
Para pemuka ajaran Katolik mulai dari Pastur hingga Paus tidak boleh menikah, alias harus hidup membujang selamanya. Ini dalam Katolik disebut “hidup selibat”. Hal ini agar mereka dapat berkonsentrasi penuh dalam mengajarkan ajaran Katolik. Tapi dalam gereja Protestan, pendeta diperbolehkan menikah.

7. Protestan membolehkan perempuan menjadi pemuka ajaran, Katolik melarang
Dalam Katolik hanya laki-laki yang boleh menjadi Pastur, sedangkan perempuan tidak boleh. Adapun dalam Protestan, baik laki-laki maupun  perempuan diberikan hak yang sama untuk menjadi pendeta (tapi lebih sering kita melihat pendeta adalah laki-laki). Sedangkan dalam Katolik, wanita yang ingin mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan hanya boleh menjadi suster (biarawati). Syarat menjadi suster sama dengan syarat menjadi pastur, yaitu tidak boleh menikah. Seorang suster juga harus memakai kerudung seumur hidupnya. Bahkan di negara-negara Barat, pakaian suster yang serba tertutup ini sekilas sangat mirip dengan jilbab dalam Islam. Di dalam peperangan, para suster ini dulunya biasa bekerja sebagai perawat, karena itulah ada kebiasaan di negara kita untuk memanggil perawat dengan sebutan “suster”

8. Perbedaan peribadatan
Peribadatan umat Katolik disebut misa, sedangkan peribadatan umat Protestan disebut kebaktian. Keduanya berbeda dalam hal isi maupun tata cara pelaksanaannya, walaupun sama-sama dilaksanakan pada hari Minggu.

9. Katolik mengkultuskan Bunda Maria, sedangkan Protestan melarangnya
Umat Katolik sangat mengkultuskan Bunda Maria, yaitu ibunda dari Yesus Kristus. Umumnya yang namanya umat Katolik memang sangat mencintai dan menghormati Bunda Maria. Sebagai penghormatan kepada Bunda Maria, dalam ajaran Katolik ada kebiasaan berdoa rosario (semacam tasbih dengan liontin salib) dan berziarah ke Goa Maria setiap bulan Mei dan Oktober. Tapi di dalam Protestan tidak ada kebiasaan semacam itu, karena ajarannya memang melarang pengkultusan pada Bunda Maria. Jadi, jika ada yang membawa-bawa rosario ataupun pergi ke Goa Maria, sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah umat Katolik.

Menurut mereka, Protestan, Katolik, Ortodoks, Koptik, dan Pentakosta adalah lima jenis Kristen yg terpecah-pecah. Mereka di sebut sebagai Kristiani. Sedangkan Protestan, Katholik, Orthodoks, dan Koptik adalah jenis-jenis Nasrani. Mereka mengaku semuanya adalah umat Isa/Yesus

10. Katolik mengakui para umat kudus (santo-santa), Protestan tidak
Para orang kudus ('saint' dalam bahasa Inggris, disingkat 'St' dan ditaruh di depan nama) merupakan orang-orang yang memiliki iman yang sangat kuat sehingga dipercaya sudah masuk surga. Orang kudus laki-laki disebut santo, sementara yang perempuan disebut santa.

Nama-nama para saint ini biasanya digunakan sebagai nama gereja, misalnya gereja Santa Maria, gereja Santo Petrus, dan lain-lain. Para saint ini punya hari perayaannya sendiri-seniri (misalnya hari raya St Valentine dirayakan tiap 14 Februari). Nama-nama para saint ini juga digunakan sebagai nama baptis dengan harapan ketika dewasa kelak, sang anak dapat meneladani para umat kudus yang namanya dipakai tersebut. Nama-nama para santo dalam ajaran Katolik biasanya diakhiri –us, misalnya Petrus, Paulus, Fransiskus, dan lain-lain.

Dalam ajaran Protestan, pemujaan pada para santo/santa dilarang keras. Bahkan umat Protestan umumnya menggunakan nama-nama nabi, bukannya nama-nama santo/santa sebagai nama baptisnya, seperti Abraham, Samuel, Daniel, dan lain-lain.

11. Katolik menggunakan patung sebagai media ibadah, Protestan tidak
Gereja Katolik biasanya dihias dengan patung-patung, entah itu patung Yesus, Bunda Maria, atau para santo/santa, hingga patung malaikat. Maksudnya agar ada visualisasi seperti apa sosok-sosok mereka itu (tidak  abstrak). Akan tetapi Protestan mengharamkan penggunaan patung dalam gereja, sebab ini dianggap sebagai berhala. Implikasi dari pelarangan patung ini, salib Katolik memiliki patung Yesus di tengahnya, sedangkan salib Protestan hanya salib biasa tanpa patung di tengahnya. Jadi mudah membedakan apakah seseorang itu Katolik atau Protestan dengan memperhatikan bentuk salib di rumahnya.

12. Katolik mengakui 7 sakramen, sementara Protestan hanya 2 saja
Sakramen adalah bentuk upacara suci yang wajib dilakukan penganut Kristiani sepanjang hidup mereka. Gereja Katolik mengakui ada 7 sakramen, yaitu:
  • Baptis (masuk ajaran Kristen), 
  • Krisma (diberikan ketika menginjak remaja), 
  • Ekaristi (yang biasa dilakukan oleh umat Katolik di gereja tiap hari Minggu), 
  • Imamat (pentahdapan menjadi pastur/romo), 
  • Pernikahan, 
  • Pengakuan Dosa, dan 
  • Pengurapan umat Sakit (diberikan saat sakit parah dan menjelang mati). 
Namun dalam gereja Protestan, hanya diakui dua sakramen saja, yaitu Baptis dan Ekaristi. Sakramen Ekaristi dalam ajaran Protestan juga tidak dilakukan setiap hari Minggu, namun hanya pada perayaan hari-hari besar saja.

13. Katolik melarang perceraian, sedangkan Protestan memperbolehkannya
Dalam ajaran Katolik tidak ada yang namanya perceraian. Pernikahan hanya boleh terjadi sekali seumur hidup (kecuali jika ditinggal mati pasangannya). Sedangkan dalam ajaran Protestan, pasangan yang sudah menikah namun sudah merasa tidak lagi cocok diperbolehkan bercerai.

Sumber :
https://m.facebook.com/notes/cah-bagus-menjawab-fitnah-misionaris/perbedaan-antara-katolik-dan-protestan/463721733730524/

Perbedaan Klenteng dan Vihara

Perbedaan Klenteng dan Vihara
KlentengKlenteng pada dasarnya adalah tempat ibadah kaum Tionghoa Perantauan. Di dalamnya terdapat berbagai macam rupang, baik dari Aliran Buddha Mahayana Rupang Dewi Guan Yin / Kuan Im / Avalokitesvara, rupang dari aliran Taois (Rupang Lao Zi / Lao Tzu / Tai Shang Lao Jun) dan Aliran Konfusianis (Rupang Konfusius itu sendiri). Selain itu ada pula rupang tokoh-tokoh yang dianggap berjasa dan layak mendapatkan penghormatan seperti Hua Tuo (Tabib legendaris yang hidup di masa 3 Kerajaan), Bao Cheng (Hakim Bao), dan lainnya.

Di negara asalnya (RRT), sulit ditemui tempat peribadatan yang mewadahi 3 kepercayaan tersebut. Umat Buddha bersembahyang ke Kuil-kuil Buddha, Umat Taois beribadah ke Kuil Taois dan Umat Konfusius melakukan ritual penting di Kuil Konfusius atau makam leluhur. Walaupun demikian, tidak ada pengkotak-kotakan kepercayaan, seperti Umat Buddha tidak boleh ke kuil Taois ataupun sebaliknya. 3 kepercayaan ini sudah membaur menjadi satu. Hal ini karena proses pembauran yang sangat lama. Perayaan Kaum Tionghua, mulai dari Perayaan Tahun Baru Imlek sampai dengan Perayaan Winter Soltice (Dong Zhi) adalah campuran dari ke 3 kepercayaan itu dan tidak bisa lagi dipisah-pisahkan.

Lalu mengapa di Komunitas Tionghoa Perantauan muncul tempat ibadah klenteng ini ? Sebagai kaum perantauan di negeri orang, mereka lebih cenderung mengandalkan kaumnya sendiri. Kaum Hokkian akan mengandalkan sesama kaum Hokkian ataupun Kaum Hakka akan mengandalkan sesama Kaum Hakka. Dengan demikian, Kaum Tionghoa Perantauan ini tidak mau ada pengkotak-kotakan kepercayaan di antara mereka. Ditambah lagi, saat berada negeri asing, sebaiknya seminim mungkin menggunakan tanah orang. Oleh karenanya, ditemukan solusi untuk membangun suatu tempat ibadah yang bisa mewadahi semua aliran yang ada, yang akhirnya disebut Klenteng. Dengan munculnya Klenteng ini, muncul pula sebutan Tri Dharma (3 Kebenaran yang mengacu kepada Ajaran Buddha, Taois dan Konfusianisme)

Kesalah-kaprahan juga disebabkan oleh peraturan pelarangan segala sesuatu yang mengandung Budaya Tionghoa pada masa Order Baru. Pada masa ini, Umat Tri Dharma beserta tempat ibadah Klenteng menghadapi 'paksaan halus' untuk memeluk salah satu dari 5 agama yang ada. Sebagian besar dari mereka akhirnya mengaku sebagai Buddhist atau beragama Buddha. Klenteng pun berganti nama menjadi Vihara supaya tidak dibredel rezim masa itu.

Efek peraturan ini sangat luas. Selain menyebabkan kesalah-kaprahan, Umat Tri Dharma yang terpaksa menjadi Umat Buddha (saya menyebutnya "Umat Buddha Terpaksa") menjadi "lahan garapan" oleh sales-sales agama lain.Salah kaprah juga meluas hingga beberapa praktek tradisi Tionghoa dianggap sebagai Ritual Buddhist.

Vihara 
Vihara adalah tempat peribadatan Umat Buddha. Idealnya Vihara adalah tempat tinggal para Bhikkhu pada suatu komunitas. Jangan pula dirancukan dengan Biara Buddha, karena biara adalah untuk para Bhikkhu yang memutuskan untuk menjauhi kehidupan duniawi / menyendiri dan biasanya Biara terletak jauh dari keramaian. Selain itu ada pula vihara skala kecil yang disebut sebagai Cetiya.

Jika anda sempat masuk ke vihara, tengoklah ke arah altar. Jika hanya ada 1 rupang Buddha, maka itu adalah Vihara Aliran Threavada. Bisa dipastikan rupang di altar tersebut adalah Rupang Buddha Gautama. Jika anda melihat rupang di altar ada 3, maka kemungkinan besar viharanya adalah Aliran Mahayana. Jika di altar ada Rupang Buddha yang berada di tengah, maka itu adalah Rupang Buddha Amitabha / Amitayus. Walaupun berbeda aliran, saya sempat menemukan Ruang Kebaktian suatu Vihara yang bisa digunakan oleh ke-2 aliran secara bergantian.

Selain itu, peribadatan yang dilakukan juga berbeda. Peribadatan di Klenteng kebanyakan adalah untuk meminta sesuatu dan bersifat pribadi,sedangkan di Vihara, peribadatan bersifat kebaktian dan bisa diisi ceramah oleh bhikkhu ataupun dhammadutta.
Sumber :
http://www.kompasiana.com/znedyar/perbedaan-klenteng-dan-vihara_54ff402aa333110f455101ec

Kitab Suci Agama Hindu

Kitab Suci Agama Hindu
Sumber ajaran agama Hindu adalah Kitab Suci Weda, yaitu kitab yang berisikan ajaran kesucian yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa melalui para Maha Rsi. Weda merupakan jiwa yang meresapi seluruh ajaran Hindu, laksana sumber air yang mengalir terus melalui sungai-sungai yang amat panjang dalam sepanjang abad. Weda adalah sabda suci atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa.
Weda secara ethimologinya berasal dari kata "Vid" (bahasa sansekerta), yang artinya mengetahui atau pengetahuan. Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna dan kekal abadi serta berasal dari Hyang Widhi Wasa. Kitab Suci Weda dikenal pula dengan Sruti, yang artinya bahwa kitab suci Weda adalah wahyu yang diterima melalui pendengaran suci dengan kemekaran intuisi para maha Rsi. Juga disebut kitab mantra karena memuat nyanyian-nyanyian pujaan. Dengan demikian yang dimaksud dengan Weda adalah Sruti dan merupakan kitab yang tidak boleh diragukan kebenarannya dan berasal dari Hyang Widhi Wasa.
Bahasa Weda
Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta, Nama sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta.
Sebelum nama Sansekerta menjadi populer, maka bahasa yang dipergunakan dalam Weda dikenal dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Tokoh yang merintis penggunaan tatabahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa. Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Wararuci.
Pembagian dan Isi Weda
Weda adalah kitab suci yang mencakup berbagai aspek kehidupan yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan materi, isi dan luas lingkupnya, maka jenis buku weda itu banyak. maha Rsi Manu membagi jenis isi Weda itu ke dalam dua kelompok besar yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti. Pembagian ini juga dipergunakan untuk menamakan semua jenis buku yang dikelompokkan sebagai kitab Weda, baik yang telah berkembang dan tumbuh menurut tafsir sebagaimana dilakukan secara turun temurun menurut tradisi maupun sebagai wahyu yang berlaku secara institusional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu, sedangkan kelompok Smerti isinya bersumber dari Weda Sruti, jadi merupakan manual, yakni buku pedoman yang sisinya tidak bertentangan dengan Sruti. Baik Sruti maupun Smerti, keduanya adalah sumber ajaran agama Hindu yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Agaknya sloka berikut ini mempertegas pernyataan di atas.

    Srutistu wedo wijneyo dharma
    sastram tu wai smerth,
    te sarrtheswamimamsye tab
    hyam dharmohi nirbabhau. (M. Dh.11.1o).
Artinya:
Sesungguhnya Sruti adalah Weda, demikian pula Smrti itu adalah dharma sastra, keduanya harus tidak boleh diragukan dalam hal apapun juga karena keduanya adalah kitab suci yang menjadi sumber ajaran agama Hindu. (Dharma)

    Weda khilo dharma mulam
    smrti sile ca tad widam,
    acarasca iwa sadhunam
    atmanastustireqaca. (M. Dh. II.6).
Artinya:
Seluruh Weda merupakan sumber utama dari pada agama Hindu (Dharma), kemudian barulah Smerti di samping Sila (kebiasaan- kebiasaan yang baik dari orang-orang yang menghayati Weda). dan kemudian acara yaitu tradisi dari orang-orang suci serta akhirnya Atmasturi (rasa puas diri sendiri).

    Srutir wedah samakhyato
    dharmasastram tu wai smrth,
    te sarwatheswam imamsye
    tabhyam dharmo winir bhrtah. (S.S.37).
Artinya:
Ketahuilah olehmu Sruti itu adalah Weda (dan) Smerti itu sesungguhnya adalah dharmasastra; keduanya harus diyakini kebenarannya dan dijadikan jalan serta dituruti agar sempurnalah dalam dharma itu.
Dari sloka-sloka diatas, maka tegaslah bahwa Sruti dan Smerti merupakan dasar utama ajaran Hindu yang kebenarannya tidak boleh dibantah. Sruti dan Smerti merupakan dasar yang harus dipegang teguh, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha.
Untuk mempermudah sistem pembahasan materi isi Weda, maka dibawah ini akan diuraikan tiap-tiap bagian dari Weda itu sebagai berikut:
SRUTI
Sruti adalah kitab wahyu yang diturunkan secara langsung oleh Tuhan (Hyang Widhi Wasa) melalui para maha Rsi. Sruti adalah Weda yang sebenarnya (originair) yang diterima melalui pendengaran, yang diturunkan sesuai periodesasinya dalam empat kelompok atau himpunan. Oleh karena itu Weda Sruti disebut juga Catur Weda atau Catur Weda Samhita (Samhita artinya himpunan). Adapun kitab-kitab Catur Weda tersebut adalah:
Rg. Weda atau Rg Weda Samhita.
Adalah wahyu yang paling pertama diturunkan sehingga merupakan Weda yang tertua. Rg Weda berisikan nyanyian-nyanyian pujaan, terdiri dari 10.552 mantra dan seluruhnya terbagi dalam 10 mandala. Mandala II sampai dengan VIII, disamping menguraikan tentang wahyu juga menyebutkan Sapta Rsi sebagai penerima wahyu. Wahyu Rg Weda dikumpulkan atau dihimpun oleh Rsi Pulaha.
Sama Weda Samhita.
Adalah Weda yang merupakan kumpulan mantra dan memuat ajaran mengenai lagu-lagu pujaan. Sama Weda terdiri dari 1.875 mantra. Wahyu Sama Weda dihimpun oleh Rsi Jaimini.
Yajur Weda Samhita.
Adalah Weda yang terdiri atas mantra-mantra dan sebagian besar berasal dari Rg. Weda. Yajur Weda memuat ajaran mengenai pokok-pokok yajus. Keseluruhan mantranya berjumlah 1.975 mantra. Yajur Weda terdiri atas dua aliran, yaitu Yayur Weda Putih dan Yayur Weda Hitam. Wahyu Yayur Weda dihimpun oleh Rsi Waisampayana.
Atharwa Weda Samhita
Adalah kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis. Atharwa Weda terdiri dari 5.987 mantra, yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Isinya adalah doa-doa untuk kehidupan sehari-hari seperti mohon kesembuhan dan lain-lain. Wahyu Atharwa Weda dihimpun oleh Rsi Sumantu.
Sebagaimana nama-nama tempat yang disebutkan dalam Rg. Weda maka dapat diperkirakan bahwa wahyu Rg Weda dikodifikasikan di daerah Punjab. Sedangkan ketiga Weda yang lain (Sama, Yayur, dan Atharwa Weda), dikodifikasikan di daerah Doab (daerah dua sungai yakni lembah sungai Gangga dan Yamuna.
Masing-masing bagian Catur Weda memiliki kitab-kitab Brahmana yang isinya adalah penjelasan tentang bagaimana mempergunakan mantra dalam rangkain upacara. Disamping kitab Brahmana, Kitab-kitab Catur Weda juga memiliki Aranyaka dan Upanisad.
Kitab Aranyaka isinya adalah penjelasan-penjelasan terhadap bagian mantra dan Brahmana. Sedangkan kitab Upanisad mengandung ajaran filsafat, yang berisikan mengenai bagaimana cara melenyapkan awidya (kebodohan), menguraikan tentang hubungan Atman dengan Brahman serta mengupas tentang tabir rahasia alam semesta dengan segala isinya. Kitab-kitab brahmana digolongkan ke dalam Karma Kandha sedangkan kitab-kitab Upanishad digolonglan ke dalam Jnana Kanda.
SMERTI
Smerti adalah Weda yang disusun kembali berdasarkan ingatan. Penyusunan ini didasarkan atas pengelompokan isi materi secara sistematis menurut bidang profesi. Secara garis besarnya Smerti dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yakni kelompok Wedangga (Sadangga), dan kelompok Upaweda.
Kelompok Wedangga:
Kelompok ini disebut juga Sadangga. Wedangga terdiri dari enam bidang Weda yaitu:
(1).Siksa (Phonetika)
Isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara tepat dalam pengucapan mantra serta rendah tekanan suara.
(2).Wyakarana (Tata Bahasa)
Merupakan suplemen batang tubuh Weda dan dianggap sangat penting serta menentukan, karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak mungkin tanpa bantuan pengertian dan bahasa yang benar.
(3).Chanda (Lagu)
Adalah cabang Weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang disebut lagu. Sejak dari sejarah penulisan Weda, peranan Chanda sangat penting. Karena dengan Chanda itu, semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun temurun seperti nyanyian yang mudah diingat.
(4).Nirukta
Memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-kata yang terdapat di dalam Weda.
(5).Jyotisa (Astronomi)
Merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan yadnya, isinya adalah membahas tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dianggap mempunyai pengaruh di dalam pelaksanaan yadnya.
(6).Kalpa
Merupakan kelompok Wedangga (Sadangga) yang terbesar dan penting. Menurut jenis isinya, Kalpa terbagi atas beberapa bidang, yaitu bidang Srauta, bidang Grhya, bidang Dharma, dan bidang Sulwa. Srauta memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan yajna, penebusan dosa dan lain-lain, terutama yang berhubungan dengan upacara keagamaan. Sedangkan kitab Grhyasutra, memuat berbagai ajaran mengenai peraturan pelaksanaan yajna yang harus dilakukan oleh orang-orang yang berumah tangga. Lebih lanjut, bagian Dharmasutra adalah membahas berbagai aspek tentang peraturan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan Sulwasutra, adalah memuat peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat tempat peribadatan, misalnya Pura, Candi dan bangunan-bangunan suci lainnya yang berhubungan dengan ilmu arsitektur.
Kelompok Upaweda:
Adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan Wedangga. Kelompok Upaweda terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
(1).Itihasa
Merupakan jenis epos yang terdiri dari dua macam yaitu Ramayana dan Mahabharata. Kitan Ramayana ditulis oleh Rsi Walmiki. Seluruh isinya dikelompokkan kedalam tujuh Kanda dan berbentuk syair. Jumlah syairnya sekitar 24.000 syair. Adapun ketujuh kanda tersebut adalah Ayodhya Kanda, Bala Kanda, Kiskinda Kanda, Sundara Kanda, Yudha Kanda dan Utara Kanda. Tiap-tiap Kanda itu merupakan satu kejadian yang menggambarkan ceritra yang menarik. Di Indonesia cerita Ramayana sangat populer yang digubah ke dalam bentuk Kekawin dan berbahasa Jawa Kuno. Kekawin ini merupakan kakawin tertua yang disusun sekitar abad ke-8.
Disamping Ramayana, epos besar lainnya adalah Mahabharata. Kitab ini disusun oleh maharsi Wyasa. Isinya adalah menceritakan kehidupan  keluarga Bharata dan menggambarkan pecahnya perang saudara diantara bangsa Arya sendiri. Ditinjau dari arti Itihasa (berasal dari kata "Iti", "ha" dan "asa" artinya adalah "sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya") maka Mahabharata itu gambaran sejarah, yang memuat mengenai kehidupan keagamaan, sosial dan politik menurut ajaran Hindu. Kitab Mahabharata meliputi 18 Parwa, yaitu Adiparwa, Sabhaparwa, Wanaparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Sauptikaparwa, Santiparwa, Anusasanaparwa, Aswamedhikaparwa, Asramawasikaparwa, Mausalaparwa, Mahaprastanikaparwa, dan Swargarohanaparwa.
Diantara parwa-parwa tersebut, terutama di dalam Bhismaparwa terdapatlah kitab Bhagavad Gita, yang amat masyur isinya adalah wejangan Sri Krsna kepada Arjuna tentang ajaran filsafat yang amat tinggi.
(2).Purana
Merupakan kumpulan cerita-cerita kuno yang menyangkut penciptaan dunia dan silsilah para raja yang memerintah di dunia, juga mengenai silsilah dewa-dewa dan bhatara, cerita mengenai silsilah keturunaan dan perkembangan dinasti Suryawangsa dan Candrawangsa serta memuat ceitra-ceritra yang menggambarkan pembuktian-pembuktian hukum yang pernah di jalankan. Selain itu Kitab Purana juga memuat pokok-pokok pemikiran yang menguraikan tentang ceritra kejadian alam semesta, doa-doa dan mantra untuk sembahyang, cara melakukan puasa, tatacara upacara keagamaan dan petunjuk-petunjuk mengenai cara bertirtayatra atau berziarah ke tempat-tempat suci. Dan yang terpenting dari kitab-kitab Purana adalah memuat pokok-pokok ajaran mengenai Theisme (Ketuhanan) yang dianut menurut berbagai madzab Hindu. Adapun kitab-kitab Purana itu terdiri dari 18 buah, yaitu Purana, Bhawisya Purana, Wamana Purana, Brahma Purana, Wisnu Purana, Narada Purana, Bhagawata Purana, Garuda Purana, Padma Purana, Waraha Purana, Matsya Purana, Kurma Purana, Lingga Purana, Siwa Purana, Skanda Purana dan Agni Purana.
(3).Arthasastra
Adalah jenis ilmu pemerintahan negara. Isinya merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Sebagai cabang ilmu, jenis ilmu ini disebut Nitisastra atau Rajadharma atau pula Dandaniti. Ada beberapa buku yang dikodifikasikan ke dalam jenis ini adalah kitab Usana, Nitisara, Sukraniti dan Arthasastra. Ada beberapa Acarya terkenal di bidang Nitisastra adalah Bhagawan Brhaspati, Bhagawan Usana, Bhagawan Parasara dan Rsi Canakya.
(4).Ayur Weda
Adalah kitab yang menyangkut bidang kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Ayur Weda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis. Oleh karena demikian, maka luas lingkup ajaran yang dikodifikasikan di dalam Ayur Weda meliputi bidang yang amat luas dan merupakan hal-hal yang hidup. Menurut isinya, Ayur Weda meliptui delapan bidang ilmu, yaitu ilmu bedah, ilmu penyakit, ilmu obat-obatan, ilmu psikotherapy, ilmu pendiudikan anak-anak (ilmu jiwa anak), ilmu toksikologi, ilmu mujizat dan ilmu jiwa remaja.
Disamping Ayur Weda, ada pula kitab Caraka Samhita yang ditulis oleh Maharsi Punarwasu. Kitab inipun memuat delapan bidan ajaran (ilmu), yakni Ilmu pengobatan, Ilmu mengenai berbagai jens penyakit yang umum, ilmu pathologi, ilmu anatomi dan embriologi, ilmu diagnosis dan pragnosis, pokok-pokok ilmu therapy, Kalpasthana dan Siddhistana. Kitab yang sejenis pula dengan Ayurweda, adalah kitab Yogasara dan Yogasastra. Kitab ini ditulis oleh Bhagawan Nagaryuna. isinya memuat pokok-pokok ilmu yoga yang dirangkaikan dengan sistem anatomi yang penting artinya dalam pembinaan kesehatan jasmani dan rohani.
(5).Gandharwaweda
Adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni. Ada beberapa buku penting yang termasuk Gandharwaweda ini adalah Natyasastra (yang meliputi Natyawedagama dan Dewadasasahasri), Rasarnawa, Rasaratnasamuscaya dan lain-lain.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa kelompok Weda Smerti meliptui banyak buku dan kodifikasinya menurut jenis bidang-bidang tertentu. Ditambah lagi kitab-kitab agama misalnya Saiwa Agama, Vaisnawa Agama dan Sakta Agama dan kitab-kitab Darsana yaitu Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Mimamsa dan Wedanta. Kedua terakhir ini termasuk golongan filsafat yang mengakui otoritas kitab Weda dan mendasarkan ajarannya pada Upanisad. Dengan uraian ini kiranya dapat diperkirakan betapa luasnya Weda itu, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Di dalam ajaran Weda, yang perlu adalah disiplin ilmu, karena tiap ilmu akan menunjuk pada satu aspek dengan sumber-sumber yang pasti pula. Hal inilah yang perlu diperhatikan dan dihayati untuk dapat mengenal isi Weda secara sempurna.
Sumber :
http://ajegbali.org/node/43

Waktu Pelaksanaan Tri Sandhya

Waktu Pelaksanaan Tri Sandhya

Dalam Bhagavadgita (BG), II.45 Krishna mengajarkan kepada Arjuna agar membebaskan diri dari Tri Guna, juga dari dualisme dengan memusatkan pikiran kepada kesucian dan melepaskan diri dari ikatan duniawi sehingga bisa bersatu dengan Atman.
Disitu dengan tegas tersirat bahwa kita harus membebaskan diri dari pengarnh sattwa, rajas, tamas dan pengaruh sifat ganda yaitu susah dan senang, puji dan maki dengan cara memusatkan pikiran kepada kesucian (Tuhan).

Saat-saat Untuk Mendekat dan Berbhakti
Sudah merupakan hukum alam bahwa, pagi hari adalah periode sifat sattwik, tengah hari adalah sifat rajasik, dan sore hari atau senja merupakan periode tamasik.
Waktu fajar menyingsing (abang wetan) pikiran dibangunkan dari kegelapan tidur, pikiran dibebaskan dari keresahan dan kemurungan sehingga pikiran menjadi tenang dan jernih. ltulah sebabnya kita diperintahkan agar melakukan Pratah Sandya atau doa Sandya yang dilakukan pada dini hari. Sementara hari bertambah siang kita dirasuki oleh raja guna yakni sifat aktif, ambisi, lincah penuh usaha, dan kita memasuki lapangan kegiatan atau kerja keras. Sebelum makan siang kita diberi petunjuk agar bersembahyang lagi kepada Tuhan dan mempersembahkan pekerjaan beserta hasilnya yang kita peroleh dari pekerjaan itu. Setelah itu baru boleh makan dengan bersyukur atas karunia-Nya. Inilah yang dimaksudkan dengan madhyannikam atau pemujaan pada tengah hari. Dengan melakukan madyannikam ini raja guna dapat dikendalikan.
Sifat ketiga yang menguasai manusia adalah tamas. Ketika matahari terbenam kita bergegas pulang makan, kemudian mengantuk dan tidur. Makan dan tidur adalah kebiasaan para pemalas dan penganggur. Ketika tamas yaitu, sifat terburuk di antara ketiga sifat itu hendak menguasai kita, maka cara terbaik untuk menghindari lilitannya adalah dengan cara bersembahyang, berkumpul dengan sesama bhakta dengan mengagungkan Tuhan, dan membaca buku yang mengagungkan kebesaran-Nya. Ini merupakan sembahyang pada petang hari yang disebut Sandya Vandanam yang juga sudah ditentukan.
Karena itu pikiran dan perasaan yang bangkit dari kekosongan pada waktu tidur harus dilatih dan dibina dengan semestinya. Kita harus berusaha belajar merasakan bahwa kebahagiaan setelah bersembahyang dan rasa suka cita yang diperoleh ketika kita mengalahkan pandangan dan pikiran dari dunia luar. Hal ini jauh lebih agung dan lebih lestari jika dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh dengan jalan tidur seperti yang biasa dilakukan.
Para Rsi mengatakan bahwa orang yang sepanjang hidupnya menjalankan Sandya tiga kali sehari dengan tekun ia akan menjadi manusia utama. la selalu berjaya. Ia akan mencapai kebebasan semasih hidup. Ia akan mencapai Jivan Mukti.
“Dia yang mengabdi kepada-Ku sujud dengan kebaktian yoga, ia naik ke atas melampaui guna, ia wajar bersatu dengan Brah·man. Begitu sabda Krishna kepada Arjuna dalam BG. XlV. 26. Sumber :
 https://dharmavada.wordpress.com/2009/11/13/puja-tri-sandhya-manfaatnya-bagi-yang-melakukan/

Tri Sandhya dan Arti

Tri Sandhya dan Arti

Berdasarkan akar katanya Tri Sandhya memiliki arti Tri = tiga dan Sandhya = pergantian waktu. Tri Sandhya dimaknai sebagai persembahyangan yang dilakukan tiga kali sehari di saat terjadinya pergantian waktu dari malam ke pagi, pagi ke siang dan siang ke malam hari.
Dalam mantram Tri Sandhya (6 bait) yang banyak orang kenal adalah bait pertama yaitu mantram Gayatri yang bersumber dari kitab suci Rg.Weda III.62.10. Lalu, bagaimana dengan 5 bait yang lainnya? Seperti halnya bait pertama, bait ke-2 sampai dengan bait ke-6 juga bersumber dari kitab suci Weda. Bait ke-2 bersumber dari Narayana Upanisad 2, bait ke-3 berasal dari Sivastava 3, dan bait ke 4-6 adalah sama yaitu bersumber dari Ksamamahadevastuti 2-5. Mari kita bahas satu persatu.
Puja Tri Sandhya merupakan ibu mantra dan intisari dari seluruh mantra-mantra Weda yang mampu membawa umat manusia menuju ke arah kehidupan yang harmonis (moka). Mantra Puja Tri Sandhya merupakan media yang paling sesuai digunakan pada zaman Kali, di mana manusia dalam waktu hidup yang singkat harus berlomba dengan waktu demi memenuhi kebutuhan jasmaninya sehingga manusia tak punya banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan rohani seperti yang dilakukan oleh Mahārṣi terdahulu sebagai contoh melakukan tapa yang cukup lama. Dalam sastra suci Weda disebutkan bahwa melakukan ‘Japa’ atau menyebut nama suci Tuhan berulang-ulang merupakan salah satu cara yang paling baik untuk meningkatkan spritualitas seseorang di zaman Kali ini dan dengan melakukan puja Tri Sandhya berarti Japapun sudah kita lakukan.
Mantra Puja Tri Sandhya merupakan intisari dari seluruh mantra-mantra suci Weda, hal ini dikarenakan mantra Puja Tri Sandhya telah mencakup segala jenis aspek dan pujian kepada Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa dan di antaranya; 1. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah melakukan Japa, karena kita telah mengucapkan mantra suci ‘Om’ dalam setiap baitnya yang berarti kita telah menyebut akara suci Tuhan secara berulang. Dimana kata ‘Om’ memiliki arti ‘Brahman’2. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui dan memuji Keagungan Tuhan dalam bentuk pengucapan ‘mantra Gayatri’ yang terletak pada bait pertama. ‘Gayatri mantra’ adalah mantra yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantra, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang. Mantra ini paling mulia karena :
One reason why the Gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that is capable of possesing “dhi”, higher intelligence which brings him knowledge, material and transendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind. (The Call of Vedas, p. 108-109).
Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.
Bait ke-1 :
Om om om
O bhūr bhuva sva
tat savitur vareya
bhargo devasya dhīmahi
dhiyo yo na pracodayāt
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, kami menyembah kecemerlangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang menguasai bumi, langit dan sorga, semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan kecerdasan dan semangat pada pikiran kami.
Dengan mengucapkan mantra ini berarti kita telah mengakui keagungan Tuhan yang telah memberi manusia kecerdasan dan pengetahuan yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling beruntung, 3. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui ‘Tuhan hanya satu dan merupakan sumber dari segalanya’ dan beliau disebut ‘Narayana’. Hal ini tercantum dalam bait kedua.
Bait ke-2 :
O nārāyaa eveda sarva
yad bhūta yac ca bhavyam
nikalako nirañjano nirvikalpo
nirākhyāta śuddho  devo eko
nārāyaa na dvitīyo ‘sti kaścit
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, semua yang ada berasal dari Sang Hyang Widhi baik yang telah ada maupun yang akan ada, Sang Hyang Widhi bersifat gaib tidak ternoda tidak terikat oleh perubahan, tidak dapat diungkapkan, suci, Sang Hyang Widhi Maha Esa, tidak ada yang kedua.
Mantra ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantra yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala). Catur Veda Sirah ini adalah salinan Nārāyaṇa Upaniṣad, sebuah Upaniṣad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dari segala noda. 4. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berarti kita telah mengakui bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan memiliki banyak manifestasi atau nama (visvarupam). Hal ini tercantum dalam bait ketiga.
Bait ke-3 :
O tva śiva tva mahādeva
īśvara parameśvara
brahmā viṣṇuśca rudraśca
purua parikīrtitā
Terjemahan
Om Sang Hyang Widhi, Engkau disebut Siwa yang menganugrahkan kerahayuan, Mahadewa (dewata tertinggi), Iswara (mahakuasa). Parameswara (sebagai maha raja diraja), Brahma (pencipta alam semesta dan segala isinya), Visnu (pemelihara alam semesta beserta isinya), Rudra (yang sangat menakutkan) dan sebagai Purusa (kesadaran agung).
Aspek yang berikutnya, 5. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya kita telah mengakui kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat. Sehingga pada bait ini kita memohon perlindungan diri kepada Tuhan dan memohon kesucian jiwa dan raga. Adapun bunyi bait keempat dari mantra Puja Tri Sandhya sebagai berikut.
Bait ke-4 :
O pāpo ‘ha pāpakarmāha
pāpātmā pāpasabhava
trāhi mā puṇḍarīkāka
sabāhyā bhyantara ‘śuci
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Sang Hyang Widhi, Sang Hyang Widhi yang bermata indah bagaikan bunga teratai, sucikan jiwa dan raga hamba.
Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantra ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah. 6. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya berartikita telah memohon pengampunan dosa kepada Tuhan. Dalam bait ini kita telah mengakui bahwa Tuhan adalah Maha Pelindung dan Penyelamat yang akan mengampuni seluruh dosa dalam wujud Beliau sebagai Sadā Śiwa. Adapun bunyi dari bait ke-lima sebagai berikut.
Bait ke-5 :
O kamasva ma mahādeva
sarva prāi hitakara
ma moca sarva pāpebhya
Pālayasva sadāśiva
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, ampunilah hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung anugrahkan kesejahteraan kepada semua makhluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa lindungilah hamba Om Sang hyang Widhi.
Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah. 7. Dengan melakukan Puja Tri Sandhya  berarti kita telah memohon pengampunan dosa kepada Tuhan. Kita telah menyadari dan mengakui segala jenis dosa yang telah kita perbuat, baik dosa perbuatan, perkataan, dan pikiran.  Berikut ini adalah mantra dari bait ke-enam Puja Tri Sandhya.
Bait ke-6 :
O kantavya kāyiko doa
kantavyo vāciko mama
kantavyo mānaso doa
tat pramādāt kamasva mām
Terjemahan:
Om Sang Hyang Widhi, ampunilah dosa yang dilakukan oleh badan hamba, ampunilah dosa yang keluar melalui kata kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Dalam bait ini disebutkan, apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang diri akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari sang diri yang meng-antar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh. Akhirnya setelah mengucapkan mantra terakhir dari Puja Tri Sandhya pada bait ke-enam, pemuja lalu mengucapkan mantra penutup, yang bertujuan untuk memperoleh kedamain (keharmonisan) setelah mengucapkan keenam bait yang ada dengan penuh keyakinan dan konsentrasi. Mantra penutup itu berbunyi:
O Śānti, Śānti, Śānti, O.
Terjemahan :
Om Sang Hyang Widhi anugrahkanlah kedamaian (damai di hati), kedamaian (damai di dunia), kedamaian selalu.
Dari penjabaran tentang mantra Puja Tri Sandhya di atas dapat disimpulkan bahwa, mantram Tri Sandhya merupakan ibu mantra intisari Weda. Karena dalam mantra ini terdapat mantra Gayatri dan mencakup seluruh aspek. Mulai dari memuji ke-Agungan Tuhan, mengakui bahwa Tuhan hanya satu, mengakui banyak manifestai Tuhan, pengakuan akan dosa yang telah kita lakukan, Memohon perlindungan Tuhan dan mempercayai bahwa Tuhan adalah pengampun seluruh dosa, dan lain-lain. Bukankah ini semua merupakan seluruh dari intisari Weda? Ini adalah ibu mantra yang paling praktis untuk dilakukan di zaman Kali, karena tidak membutuhkan banyak waktu dalam pelaksanaannya. Kita tidak lagi harus melakukan pemujaan hingga berjam-jam. Walaupun singkat dan praktis namun esensi dari ibu mantra ini mencakup ‘Catur Weda’. Dengan demikian hanya dengan melakukan Puja Tri Sandhya secara rutin sama halnya dengan kita membaca seluruh sloka-sloka suci Weda guna menuju hidup yang harmonis. Ini membuktikan bahwa Puja Tri Sandhya sangat sempurna, karena seluruh intisari Weda telah tertuang dalam ibu mantra ini. Mantram Puja Tri Sandhya kemudian akan menjadi lebih sempurna lagi jika diikuti dengan melakukan ‘Kramaning Sembah’.
Demikianlah mantram Tri Sandhya, terjemahan dan pemahamannya. Dengan pengertian dan pemahaman makna, sraddha, keyakinan kita kepada-Nya akan semakin mantap.
Sumber :
“Tri Sandhya, Sembahyang dan Berdoa” oleh I Made Titib; Vedasastra; apagung
https://pandejuliana.wordpress.com/2012/11/24/puja-tri-sandhya-sumber-teks-terjemahan-dan-pemahamannya/
https://luhemik.wordpress.com/2011/02/04/makna-tri-sandhya/

Arti Lambang Swastika

Arti Lambang Swastika
https://adnyawayan.files.wordpress.com/2012/07/swastika.jpg
Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.
Kata Swastika terdiri dari kata Su yang berarti baik, kata Asti yang berarti adalah dan akhiran Ka yang membentuk kata sifat menjadi kata benda. Sehingga lambang Swastika merupakan bentuk simbol atau gambar dari terapan kata Swastyastu (Semoga dalam keadaan baik).

Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.
Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika.
Adapun bentuk asli dari lambang Swastika ialah dua garis vertikal dan horisontal bersilang sama sisi, tegak lurus di tengah- tengah (+), seperti berikut:
lambang1
Sebagai kreasi seni budaya yang selalu berkembang, Swastika juga mengalami perkembangan sehingga kemudian menjadi berbentuk seperti berikut:
lambang swastika

Sumber :
http://inputbali.com/budaya-bali/memahi-lebih-dalam-akan-makna-om-swastiastu
https://adnyawayan.wordpress.com/2012/07/11/arti-lambang-swastika-dalam-agama-hindu/
https://id.wikipedia.org/wiki/Swastika